Penulis : Uta.Muhtadin
Rencana Full day yang akan dirilis oleh salah satu lembaga
pemerintah bidang pendidikan dan kebudayaan saat ini menjadi salah satu topik
yang sangat ramai dibahas. Baik pada kalangan Akademis samapi Politis, dan kini
saatnya kaum sarungan ikut andil membahasa wacana tersebut.
Sebenarnya,
Lembaga yang pertama kali melaksanakan Full Day itu adalah Pondok Pesantren.
Yang mana, Pondok secara turun temurun menerapkan Kegiatan belajar mengajar
bukan terbatas hanya Pagi sampai Sore hari. Akan tetapi, Pondok Pesanter
menerapkan KBM sampai malam hari, bahkan ada yang sampai 24 Jam. Namun, sangat
jauh dengan Kurikulum Full day yang akan diterapkan oleh lembaga pemerintah
pada saat ini. Bila pemerintah mempunyai Visi da Misi wacana full day itu untuk
bertujuan menjadikan Generasi Bangsa menuju Revolusi mental atau menuju gotong
royong, seharusnya mengikuti Kurikulum Pesantren. Kenapa ? dilingkungan
pesantren tujuan Full Day itu, bukan hanya terbatas mampu merubah anak bangsa
Berevolusi mental. Akan tetapi, samapai Berevolusi ahlak, bergotong royong dan
menanamkan pada jati dirinya untuk bagaimana berkehidupan social yang
mampu bermanfaat bagi orang lain
terutama agama dan bangsa ini. Itu semua terbukti, dengan didikan lebih
mengutamakan kepada mendalami pendidikan agama.
Pada
persoalanya, kami para santri khwatir bila kurikulum yang kami jalani,
dikontaminasi dengan kurikulum yang bertolak belakang dengan kurikulum yang
kami pelajari sejak berabad-abad telah ada dan sudah jelas menghasilakn nilai
positif bagi bangsa ini. Pondok Pesantren bukan hanya terbatas mampu merubah
anak bangsa Berevolusi mental. Akan tetapi, samapai Berevolusi ahlak, bergotong
royong dan menanamkan pada jati dirinya untuk bagaimana hidup bermanfaat bagi
orang lain, terutama agama dan bangsa ini. Silahkan baca fakta sejarah dari
hasil Pondok Pesantren sebagi lembaga pendidikan tertua yang berdiri di tanah
Indonesia ini.
Namun,
kami akan sangat senang dan mendukung penuh bila Full Day yang akan
direalisasikan oleh lembaga pemerintah dimayoritaskan adalah kurikulum yang
sama kami jalani, yaitu pendidikan agama yang diutamakan. Karena, bila full day
yang akan dipaksakan oleh pemerintah lebih mengutamakan ilmu umum atau biasa
kami sebut ilmu dunia. Maka, itu akan berdampak menambah kesenjangan dalam
hubungan sosial.
No comments:
Post a Comment