Pernahkan
anda mengalami bagaimana rasanya makan beralasakan daun pisang yang bersentuhan
dengan tanah?
Sebuah daun panjang di gelar kemudian nasi dan lauk beserta sayur
di taruh diatasnya kemudian beramai-ramai menyantap makanan yang tersaji.
Bayangkan saja keasikan dan kebahagiaan yang ada pada, yang pasti suasananya
jauh berbeda bila kita menyantap makanan di warung makan atau restoran. Ya,
makan bersama beralaskan daun pisang masih menjadi tradisi kuat terlihat
dilaksanakan oleh anak pesantren Salafiy Al-Barokah Kelurahan Kadomas Kecamatan.
Pandeglang Kabupaten. Pandeglang Provinsi. Banten
Makan dengan
beralaskan daun di Pondok kami, merupakan kebiasaan yang secara turun – temurun
tidak bias dipisahkan dalam kehidupan sehari – hari kami. Karena, hal ini
sangat banyak mengandung keuntungan yang luar biasa dan juga memiliki nilai
filosofi yang menjadi semangat dalam kehidupan belajar.
Ya, hal ini adalah salah satu
tradiisi kami, yang diantarannya menjadikan sebuah mmakan makna “KEBERSAMAAN
DAN PERSAUDARAAN”. Yang mana, dalam Pilosofi kami ketika makan
menggunakan daun pisang, duduk makan bersama ini tidak memandang derajat apakah
ia orang kaya, pejabat penting atau rakyat biasa. Disini akan menciptakan Susana
kebersamaan tanpa ada sekat – sekat perbedaan.
Saya berharaf,
tradisi makan beralaskan daun pisang seperti kami pun, juga terdapat dirasakan
di daerah lainnya di tanah air. Sehingga tradisi ini dapat dijumpai dan menjadi
ciri khas sebuah Kerukunan menuju Persatuan dan Kesatuan sebuah dari Budaya
Indonesia.

No comments:
Post a Comment