“Disaat Cobaan Jatuh Dalam Kesedihan,
Maka Do’a Adalah sebaik-baiknya Rayuan
Bahagia “. (Uta.Muhtadin)
Pondok pesantren adalah peradaban pendidikan yang
selalu mendedikasihkan terhadap jiwa-jiwa kesantrian agar pandai dalam merayu
langit. Karena santri adalah ruh dan pesantren sebagi jasadnya. Bila ruh tak
pandai dalam membawa jasad kejalan bahagia, maka ia akan terus merasakan
kesakitan. Sehingga pesantren selalu menitik beratkan para santri agar selalu berprilaku
yang mengandung nilai-nilai kebaikan. Terbukti, muatan pendidikan yang ada dilamanya
ialah kiat-kiat bagaimana cara merayu langit, agar bumi selalu bahagia.
Kegelisahan manusia telah
ditempatkan dalam takdir kehidupanya masing-masing. Seperti bunga yang bermekaran,
lalu ia mengering dan berguguran. Itulah Qiyas (contoh) kehidupan. Sikapi hal tersebut dengan keistiqomahan
dalam hati, maka niscaya akan mampu bertepi di dermaga keindahan.
Karena, sebaik-baiknya seorang hamba adalah mensyukuri segala anugrah yang
telah diberikan, serta menggunakan setiap jengkal langkah kehidupanya untuk
merayu langit, agar penduduk bumi tetap tersenyum.
Tetap berdoa, jangan pernah berputus asa, dan jangan
pernah patah semangat dalam mengejar apa yang kamu impikan. Karena usaha dan do’a
akan membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Do’a adalah cara jitu
untuk mengetuk langit. Oleh sebab itu, jangan pernah berhenti untuk berdoa. Yakinlah!,
bahwa dengan berdoa, dan tidak meninggalkan do’a kita akan mendapatkan apa yang
kita inginkan.
"Jika kesedihan dalam suatu ujian hidup,
bukan suatu tujuan untuk memohon Ridho Allah. Maka sia-sialah tangisan yang kita
keluarkan". (Uta.Muhtadin)

No comments:
Post a Comment