Indonesia
dikenal dunia karena kekayaan budaya, keseniannya, suku bangsa dan bahasa
daerah. Selain itu, tanah Indoneia yang luas juga menjadikan Indonesia kaya
akan hewan dan tumbuhan. Bumi Indonesia juga kaya sumberdaya alam.
Indonesia
adalah negara yang memiliki suku bangsa dan bahasa daerah paling banyak di
dunia. Ada ribuan suku yang menghuni tanah air. Ada ribuan jenis pulau
kebudayaan dan kesenian di Indonesia. Contohnya, Pakaian Adat, Rumah Ada,
Tarian, dan Lain-lain. Masing-masing suku di Indonesia memiliki adat istiadat
yang berbeda-beda. Mereka juga memiliki cara merayakan kegembiraan yang berbeda
juga. Tarian, Nyanyian, dan Alat Musik Tradisional.
v Gamelan
Gamelan adalah alat musik yang
biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Pada instrumennya/alatnya,
yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Gamelan
sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul/menabuh,
diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan
terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam
berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di
Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.
v Karapan sapi
Merupakan
istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal
dari Pulau Madura, Jawa Timur.
Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu
(tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam
lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain.
Awal mula
kerapan sapi dilatar belakangi oleh tanah Madura yang kurang subur untuk lahan
pertanian, sebagai gantinya orang-orang Madura mengalihkan mata pencahariannya
sebagai nelayan untuk daerah pesisir dan beternak sapi yang sekaligus digunakan
untuk bertani khususnya dalam membajak sawah atau ladang.
v Keris
Keris adalah senjata tradisional dari Indonesia yang
diyakini mengandung kekuatan magis atau supranatural. Keris biasanya digunakan
oleh para anggota kerajaan sebagai senjata pusaka yang dituakan. Keris sendiri
telah digunakan di Indonesia sejak abad ke-9, keris terbuat dari logam
berkualitas, bahkan untuk keris kuno, banyak ditemukan terbuat dari bahan logam
meteor yang jatuh kebumi. Menurut para peneliti keris kuno setidaknyamengandung unsur logam titanium, suatu bahan yang baru pada abad 20
digunakan sebagai bahan pelapis kendaraan untuk luar angkasa .
Gagang
keris sendiri biasanya terbuat dari tulang belulang, kayu, ataupun tanduk
binatang.UNESCO juga mengakui Keris sebagai “Masterpiece of the Oral and
Intangible Heritage of Humanity” pada tanggal 25 November 2005.
v Lompat Batu
Lompat Batu adalah sebuah tradisi
yang berasal dari Nias Selatan, jangan lewatkan berkunjung ke Desa Adat
Bawomataluo. Tepatnya di Desa Bawomataluo, yang berdiri sekitar tahun 1830-an
ini berada diketinggian 270 mdpl, merupakan wilayah tertinggi di Nias Selatan.
Konon, tingginya wilayah ini melambangkan kekuasaan dan kekuataan kerajaan pada
masa lampau.
Tradisi lompat batu atau dalam bahasa setempat disebut Fahombo, hanya untuk
laki-laki di Nias. Menurut Methodius Zhagoto (20), pemuda Desa Bawomataluo yang
mendampingi kami saat menyaksikan tradisi ini, sejarah lompat batu bermula dari
syarat pemuda desa sudah bisa ikut berperang atau belum.
Dahulu perang antar wilayah sering
terjadi. Setiap wilayah biasanya dipagari dengan bambu setinggi dua meter atau
lebih. Untuk bisa ikut berperang dan diterima sebagai prajurit raja, seorang
pemuda harus bisa melompati bambu yang memagari wilayah lawan. Selain itu,
pemuda yang mampu melompati tumpukan batu setinggi 2 meter dan tebal 40 cm ini
dianggap telah dewasa dan matang secara fisik.
v Tari pendet
Tari pendet merupakan
salah satu tarian selamat datang yang paling tua di Pulau Bali. Menarikan
tarian ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan spiritual
masyarakat Hindu di Bali.
Jenis tarian penyambutan
ini dibawakan oleh sekelompok remaja putri yang masing-masing membawa mangkok
perak yang berisi bunga warna-warni. Dan pada bagian akhir tarian, para penari
menaburkan bunga-bunga yang mereka bawa ke arah penonton atau tamu yang
disambut, sebagai ucapan selamat datang.
Penggagas tarian ini adalah dua seniman
kelahiran desa Sumertha, Denpasar, yaitu I Wayan Rindi dan Ni Ketut Reneng.
Keduanya menciptakan tari Pendet penyambutan dengan empat orang penari yang
dipentaskan sebagai bagian dari pertunjukan kepariwisataan di sejumlah hotel
yang ada di Denpasar, Bali. Dan pada tahun 1961, I Wayan Beratha mengembangkan
tarian ini dan menambah jumlah penarinya menjadi lima orang, seperti yang
sering ditampilkan sekarang.